BiofarmingOrganik, Tulungagung - Ingin bertanam melon dengan perawatan yang mudah? Melon Hijau bisa menjadi alternatif solusinya. Seperti berita yang ditulis dalam Radar Tulungagung (9/12) berikut ini.
Sentra nutrisi organik untuk meningkatkan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan organik
Showing posts with label Budidaya Pertanian/Perkebunan. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Pertanian/Perkebunan. Show all posts
Agensia Hayati BVR, Pembasmi Wereng Secara Organik
Wereng Menyerang, Petani Resah
![]() |
| Wereng hijau (tnau.ac.in) |
Bercocok Tanam di Lahan Pantai, Mengapa Tidak?
![]() |
| Lab. Natural Nusantara, Pandansimo, Bantul (sumber:wongtaniku.wordpress) |
BiofarmingOrganik - Bercocok tanam di lahan pantai? Ah, tak mungkin. Boleh jadi itu yang muncul dalam benak kita saat membayangkan tanah pasir yang begitu tandus bisa menghasilkan buah-buahan, padi, sayuran, dan sumber pangan lainnya. Wajar memang, karena pasir bersifat sangat porous sehingga mustahil tanaman mendapatkan unsur hara yang memadai.
Panduan Praktis Budidaya Melon
BiofarmingOrganik - Melon adalah buah yang populer di Indonesia. Buah ini mudah dijumpai di kios pedagang buah atau pun penjaja buah potong segar yang berkeliling di jalan. Rasanya yang manis segar menjadikan melon juga digemari pada saat cuaca panas selain buah semangka. Jus melon juga menjadi favorit.
Agribisnis melon menunjukkan prospek menjanjikan dan harus didukung dengan lahan yang sesuai syarat tumbuhnya. Jika faktor tanah yang semakin keras, miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman serta faktor pemeliharaan tidak diperhatikan maka keuntungan akan menurun.
SYARAT TUMBUH MELON
1. Iklim
Tanaman melon membutuhkan penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembapan yang tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-30 oC. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus akan merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.
2. Media Tanam
Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2.
PEMBIBITAN MELON
1. Pembuatan Media Semai
Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan + 1 minggu di tempat yang teduh dengan selalu menjaga kelembapannya dan sesekali diaduk (dibalik).
Campurkan tanah halus (diayak) 2 bagian/2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian/1 ember, TSP (± 50 g) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang 1-2 kg . Masukkan media semai ke dalam polybag ukuran 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.
2. Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan Bibit
Rendam benih dalam 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 tutup POC NASA selama 8-12 jam lalu diperam + 48 jam. Selanjutnya disemai dalam polybag, sedalam 1-1,5 cm. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah. Benih ditutup dengan campuran abu sekam dan tanah dengan perbandingan 2:1. Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan yang salah satu ujungnya terbuka.
Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, pada umur bibit 7-9 hari dengan dosis1,0-1,5 cc/liter. Penyiraman dilakukan dengan hati-hati secara rutin setiap pagi.
Bibit melon yang sudah berdaun 4-5 helai atau tanaman melon telah berusia 10-12 hari dapat dipindahtanamkan dengan cara kantong plastik polibag dibuka hati-hati lalu bibit berikut tanahnya ditanam pada bedengan yang sudah dilubangi sebelumnya, bedengan jangan sampai kekurangan air.
PENANAMAN BIBIT MELON
1. Persiapan Lahan Budidaya Melon
a. Pembukaan Lahan
Sebelum dibajak digenangi air lebih dahulu semalam, kemudian keesokan harinya dilakukan pembajakan dengan kedalaman sekitar 30 cm. Setelah itu dilakukan pengeringan, baru dihaluskan.
b. Pembentukan Bedengan
Panjang bedengan maksimum 12-15 m; tinggi bedengan 30-50 cm; lebar bedengan 100-110 cm; dan lebar parit 55-65 cm.
c. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1.000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit, untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH > 6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
d. Pemupukan Dasar
| Pupuk Kandang (ton/ ha) | Dosis Pupuk Makro ( gram/ pohon ) | Dosis POC NASA | ||
| Urea | SP36 | KCl | ||
| 4-5 | 12 | 20 | 8 | 30-60 tutup /1000 m2 + air secukupnya (siramkan) |
Hasil akan lebih baik jika pada pemupukan dasar, POC NASA diganti SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis 1-2 botol/1.000 m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.
e. Pemberian Natural GLIO
Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur terutama penyakit layu, sebaiknya tebarkan Natural GLIO yang sudah disiapkan sebelum persemaian. Dosis 1-2 kemasan per 1.000 m2.
f. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam-Perak (PHP)
Pemasangan mulsa sebaiknya saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Biarkan bedengan tertutup mulsa 3-5 hari sebelum dibuat lubang tanam.
2. Teknik Penanaman
a. Pembuatan Lubang Tanam
Diameter lubang sekitar 10 cm dan jarak lubang 60-80 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segiempat atau segitiga.
b. Cara Penanaman
Bibit siap tanam dipindahkan beserta medianya. Usahakan akar tanaman tidak sampai rusak saat menyobek polibag.
3. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman
Penyulaman dilakukan 3-5 hari setelah tanam. Setelah selesai penyulaman tanaman baru harus disiram air. Sebaiknya penyulaman dilakukan sore hari.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma/ rumput liar.
c. Perempelan/Pemangkasan
Perempelan dilakukan terhadap tunas/cabang air yang bukan merupakan cabang utama.
d. Pemupukan
| Waktu | Dosis Pupuk Makro ( gram/ pohon ) | ||
| Urea | SP-36 | KCl | |
| Umur 10 hari | 12 | 12 | 10 |
| Umur 20 hari | 12 | 12 | 10 |
| Umur 30 hari | 12 | 8 | 12 |
| Umur 40 hari | 12 | 8 | 20 |
| POC NASA : ( per ha ) Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu | POC NASA disemprotkan ke tanaman :
| ||
e. Penggunaan Hormonik
Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-5 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan HORMONIK mulai usia 3-11 minggu, interval 7 hari sekali.
f. Penyiraman
Penyiraman sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai akan dipetik buahnya kecuali hujan. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali.
4. Pemeliharaan Lain
a. Pemasangan Ajir
Ajir dipasang sesudah bibit mengeluarkan sulur-sulurnya. Tinggi ajir 150 – 200 cm. Ajir terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah + 2-3 kg. Tempat ditancapkannya ajir sekitar 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh bisa menambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya.
b. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT MELON
1. Hama Melon
a. Kutu Aphis (Aphis gossypii Glover)
Ciri: mempunyai getah cairan yang mengandung madu dan di lihat dari kejauhan mengkilap. Aphis muda berwarna kuning, sedangkan yang dewasa mempunyai sayap dan berwarna agak kehitaman. Gejala: daun tanaman menggulung, pucuk tanaman menjadi kering akibat cairan daun dihisap hama. Pengendalian: (1) gulma selalu dibersihkan agar tidak menjadi inang hama; (2) semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Ciri: menyerang saat fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimfa berwarna kekuning-kuningan dan dewasa berwarna coklat kehitaman. Serangan dilakukan di musim kemarau. Gejala: daun muda atau tunas baru menjadi keriting, dan bercak kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Gejala ini harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama thrips. Pengendalian: menyemprot dengan Pestona atau Natural BVR.
2. Penyakit Melon
a. Layu Bakteri
Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky). Gejala: daun dan cabang layu, terjadi pengerutan pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau. Apabila batang tanaman yang dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang. Pengendalian: gunakan Natural GLIO sebelum tanam.
b. Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt)
Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et Walker. Gejala: pangkal batang seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun yang terserang akan mengering. Pengendalian: (1) penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan; (2) daun yang terserang dibersihkan. (3) gunakan Natural GLIO sebelum tanam sebagai pencegahan.
Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
3. Gulma Pengganggu Melon
Gulma (tumbuhan pengganggu) bersifat merugikan tanaman karena menyaingi tanaman melom dalam memperoleh zat hara, tempat tumbuh, dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil,karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon.
PANEN MELON
1. Ciri dan Umur Panen Melon
a. Tanda/Ciri Penampilan Tanaman Siap Panen
- Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal.
- Jala/Net pada kulit buah sangat nyata/kasar.
- Warna kulit hijau kekuningan.
b. Umur Panen Melon
Umur panen melon berkisar 3 bulan setelah tanam.
c. Waktu Pemanenan Melon
Waktu yang baik untuk memanen melon yaitu pada pagi hari.
2. Cara Panen Melon
- Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2 cm untuk memperpanjang masa simpan buah.
- Tangkai dipotong berbentuk huruf “T” , maksudnya agar tangkai buah utuh.
- Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap dipanen.
- Buah yang telah dipanen disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual.
3. Penyimpanan Buah Melon
Buah melon tidak boleh ditumpuk. Buah yang belum terangkut sebaiknya disimpan dalam gudang dan ditata rapi dengan dilapisi jerami kering. Tempat penyimpanan harus bersih dan kering.
Testimoni Petani Melon Pengguna Produk NASA
Panduan Praktis Budidaya Semangka
BiofarmingOrganik - Semangka, siapa yang tak kenal dengan buah ini. Kandungan airnya yang banyak membuat buah semangka menjadi favorit sebagai buah penghilang dahaga. Dalam hal khasiat di bidang pengobatan, semangka dipercaya bisa menurunkan tekanan darah. Semangka juga menjadi buah sajian bagi penderita panas tubuh yang tinggi.
Kemajuan teknologi dan cara inovasi dalam budidaya menghasilkan banyak varian semangka. Mulai dari yang berbentuk bulat, lonjong, bahkan dibuat kotak. Warna dagingnya pun ada yang merah, ada pula yang kuning. Bahkan ada pula semangka yang tidak berbiji. Tertarik menanam semangka atau membudidayakannya? Berikut panduan praktis budidaya semangka.
SYARAT TUMBUH
1. Iklim Budidaya Semangka
Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Suhu optimal ± 25 oC. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.
2. Media Tanam Semangka
Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. Cocok pada jenis tanah geluh berpasir. Keasaman tanah (pH) 6 – 6,7.
PEMBIBITAN SEMANGKA
1. Penyiapan Media Semai Benih Semangka
- Siapkan Natural GLIO: 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1.000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
- Campurkan tanah halus (yang telah diayak) sebanyak 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg).
- Masukkan media semai ke dalam polybag kecil ukuran 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.
2. Teknik Perkecambahan Biji Semangka
- Masukkan biji semangka ke dalam kain, lalu ikat.
- Rendam biji semangka tersebut dalam ramuan: 1 liter air hangat bersuhu 20-25 oC + 1 sendok POC NASA selama 8-12 jam.
- Ambil biji semangka, lalu bungkus koran dan peram selama 1-2 hari.
- Ambil biji semangka yang telah berkecambah untuk disemaikan. Jika biji dalam koran kering, lakukan langkah seperti sebelumnya.
3. Penyemaian dan Pemeliharaan Bibit Semangka
- Siram media semai dengan air bersih secukupnya. Benih dipilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, lalu langsung semai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
- Letakkan kantong persemaian secara berderet agar terkena sinar matahari penuh. Beri perlindungan plastik transparan.
- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit secara rutin setiap 3 – 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
1. Pembukaan Lahan
Lakukan pembajakan sedalam 30 cm, haluskan dan ratakan. Bersihkan lahan dari sisa-sisa akar dan batu.2. Pembentukan Bedengan
Buat bedengan dengan lebar 6-8 m dan usahakan tinggi bedengan minimal 20 cm.
3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1.000 m2 pada pH tanah 4-5 memerlukann 150-200 kg dolomit. Sementara untuk pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit. Adapun keasaman tanah dengan pH >6 membutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
4. Pemupukan Dasar
- Taburkan pupuk kandang sebanyak 600 kg/ha pada permukaan bedengan, sekitar seminggu sebelum tanam.
- Jika perlu, taburkan pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).
- Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya di atas bedengan dengan dosis sekitar 1-2 botol/1.000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dengan dosis 1-2 botol/1.000 m2. Caranya: alternatif 1, encerkan 1 botol SUPER NASA dalam 3 liter air untuk dijadikan larutan induk. Selanjutnya, campurkan setiap 50 lt air dengan 200 cc larutan induk tersebut untuk menyiram bedengan. Alternatif 2, campurkan 1 sdm SUPER NASA dalam 1 gembor bervolume 10 l air. Digunakan untuk menyiram bedengan sepanjang 10 m.
5. Lain-lain
Bedengan perlu disiangi, disiram, dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm untuk menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Tebarkan jerami kering setebal 2-3 cm di atas mulsa untuk media perambatan semangka dan peletakan buah.
PENANAMAN BIBIT SEMANGKA
1. Pembuatan Lubang Tanaman Semangka
Pembuatan lubang dilakukan satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm, jarak 20-30 cm dari tepi bedengan, dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.2. Waktu Penanaman Bibit Semangka
Penanaman bibit semangka sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.
PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penyulaman Bibit Semangka
Penyulaman bibit semangka sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam.2. Penyiangan
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Pemeliharaan cukup pada 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Penyiangan dilakukan pada ranting yang tidak berguna. Ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang terdapat buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.
3. Perempelan Tunas Semangka
Perempelan atau pemangkasan tunas-tunas muda pada tanaman semangka bertujuan untuk menghilangkan cabang yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.
4. Pengairan dan Penyiraman Semangka
Pengairan dilakukan melalui saluran di antara bedengan atau melalui gembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.
5. Pemupukan Semangka
Waktu | Dosis Pupuk Makro (kg/ ha) | ||
ZA | TSP | KCl | |
Susulan I (3 hari) | 40 | - | 40 |
Susulan II Daun 4-6 helai | 120 | 85 | 80 |
Susulan III Batang 45–55 cm | 170 | - | 30 |
Susulan IV Tanaman bunga | 130 | - | 30 |
Susulan V Buah masih pentil | 80 | - | 30 |
| POC NASA ( per ha ) Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu | POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif 1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki | ||
6. Waktu Penyemprotan Semangka dengan HORMONIK
Semprotkan HORMONIK, sejenis ZPT/hormon alami, dengan dosis 1-2 cc/liter air atau 1-2 tutup HORMONIK ditambah 3-4 tutup POC NASA untuk setiap tangki semprot. Penyemprotan dilakukan pada umur 21 – 70 hari dengan interval 7 hari sekali.
7. Pemeliharaan Lainnya pada Semangka
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik serta tidak cacat. Untuk setiap tanaman diperlukan calon buah sebanyak 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak buah berbobot sekitar 2 kg perlu sering dibalik untuk menghindari warna yang kurang baik atau tidak merata akibat terkena sinar matahari.PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA
1. Hama pada Semangka
a. Thrips
Berukuran kecil ramping, berwarna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut dan badan beruas-ruas. Cara penularannya dengan mengembara pada malam hari, menetap, dan berkembang biak. Pengendalian thrips dilakukan dengan cara menyemprotkan Natural BVR atau Pestona.
b. Ulat Perusak Daun
Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning. Gejala serangan yaitu daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian ulat perusak daun ini dilakukan dengan menyemprotkan Natural Vitura atau Pestona.
c. Tungau
Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan ini mengisap cairan tanaman. Tanda serangannya, tampak dengan adanya jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun. Warna dedaunan yang terserang akan terlihat pucat. Pengendalian tungau dilakukan dengan cara menyemprotkan Natural BVR atau Pestona.
d. Ulat Tanah
Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, serta aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Ulat tanah menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, sedangkan ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian ulat tanah dilakukan dengan cara: (1) melakukan penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) melakukan pengendalian dengan cara menyemprotkan Natural Vitura/Virexi atau Pestona.
e. Lalat Buah
Lalat buah memiliki ciri berupa sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak serta mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan lalat buah terlihat dari adanya bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai). Selain itu, daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian lalat buah dilakukan dengan membersihkan lingkungan, membalikkan tanah bekas hama dengan bajak/cangkul, memasang perangkap lalat buah dan menyemprotkan Pestona.
2. Penyakit Semangka
a. Layu Fusarium
Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur. Pengendalian: (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.
b. Bercak Daun
Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.
c. Antraknosa
Penyebab: seperti penyakit layu fusarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.
d. Busuk Semai
Menyerang pada benih yang sedang disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.
e. Busuk Buah
Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.
f. Karat Daun
Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
PEMANENAN SEMANGKA
1.Ciri dan Umur Panen Semangka
Umur panen semangka yaitu 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-ciri buah semangka siap panen yaitu terjadi perubahan warna buah dan batang buah terlihat mulai mengecil.
2.Cara Panen Semangka
Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya. Di samping itu, buah akan lebih tahan lama selama dalam penyimpananan atau pun di tangan para pengecer. Pemotongan buah semangka sebaiknya dilakukan beserta tangkainya.
TESTIMONI PETANI SEMANGKA PENGGUNA PRODUK ORGANIK NASA
Berikut testimoni atau kesaksian petani semangka pengguna produk NASA.
Subscribe to:
Posts (Atom)
MARI HIJAUKAN BUMI KITA
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
''Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.'' (QS al-Baqarah : 22).
Dari Jabir bin Abdullah ra berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:
''Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.'' (QS al-Baqarah : 22).
Dari Jabir bin Abdullah ra berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya .” [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh,3945].
Tabi’in, Umarah bin Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshoriy Al-Madaniy, bahwa “Aku pernah mendengarkan Umar bin Khaththab berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?”
Bapakku berkata , “Aku orang yang sudah tua, ”
Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!”
Sungguh aku melihat Umar bin Khaththab menanamnya dengan tangannya bersama bapakku. ” [HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1/1/39)]



